Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

ââ⢠What Is the Evidence of a Performance Art Event?

cover

Panggung

Published by Institut Seni Budaya Republic of indonesia Bandung

ISSN : -     EISSN : 25023640     DOI : -

Core Subject : Didactics,

Panggung is online peer-review periodical focusing on studies and researches in the areas related to performing arts and culture studies with various perspectives. The journal invites scholars, researchers, and students to contribute the outcome of their studies and researches in those areas mentioned above related to arts and civilisation in Indonesia and Southeast Asia in different perspectives.

Arjuna Subject : -

Articles 603 Documents

Katoneng-Katoneng Cawir Metua: A Cultural Expression of Karo Society

;

Naiborhu, Torang
PANGGUNG Vol 27, No three (2017): Educational activity, Creation, and Cultural Expression in Art

Publisher :

LP2M ISBI Bandung

Bear witness Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: x.26742/panggung.v27i3.275

Abstruse Katoneng-katoneng is a traditional song of Karo ethnic in North Sumatera equanimous spontaneously using repetitive tune with unlike lyrics depend on the context and situation (strophic logogenic). Used in various social and cultural activities of Karo social club, ane of them is for the cawir metua ritual (the expiry of a person accounted to have been in accordance with the ideals and expectances of Karo guild).This enquiry reviewed the textual signification of Katoneng-katoneng as the cultural expression of the owner society by using the art theory (performing art), ethnomusicology, semiotic, and anthropology. Field data collected by directly observation, interview, and recording. Qualitative method used by defining cardinal informant, including traditional effigy, sierjabaten (musician), perkolong-kolong (katoneng-katoneng vocaliser) and user society.The result shows katoneng-katoneng is the expression of various things: messages and advices, prayer, expectance, ideals, exemplary, life persistence, cooperation values, purpose of life, and others; delivered past perkolong-kolong professional vocalist represents those who take died and the elements of sangkep nggeluh (rakut sitelu) relatives by singing. The significance of the texts refer to civilization ideals and concepts of Karo guild.Keywords: katoneng-katoneng, cawir metua, sierjabaten, perkolong-kolong, sangkep nggeluh (rakut sitelu) ABSTRAK Katoneng-katoneng adalah nyanyian tradisional etnik Karo di Sumatera Utara yang diciptakan secara spontan menggunakan melodi tetap namun dengan teks baru sesuai situasi dan konteksnya (strophic logogenic). Digunakan dalam berbagai aktivitas sosial budaya masyarakat Karo, salah satunya ialah pada upacara cawirmetua (kematian seseorang yang dipandang telah sesuai dengan cita-cita dan harapan masyarakat Karo). Penelitian ini mengkaji fungsi dan makna tekstual katoneng-katoneng sebagai ekspresi kultural masyarakat pemiliknya dengan menggunakan teori kesenian (seni pertunjukan), etnomusikologi, semiotika, dan antropologi. Pengumpulan data lapangan dilakukan melalui pengamatan langsung, wawancara, dan perekaman. Menggunakan metode kualitatif dengan informan kunci yaitu tokoh adat, sierjabaten (pemusik), perkolong-kolong (penyanyi katoneng-katoneng) dan masyarakat pemiliknya. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa katoneng-katoneng adalah ungkapan tentang berbagai hal: pesan-pesan dan nasehat, do’a, harapan, cita-cita, keteladanan, keteguhan hidup, nilai-nilai kegotong-royongan, tujuan hidup di dunia, dan lainnya yang disampaikan oleh penyanyi professional person perkolong-kolong mewakili orang yang meninggal dan unsur-unsur kerabat sangkep nggeluh (rakut sitelu) dengan cara bernyanyi. Fungsi dan makna teks mengacu kepada cita-cita dan konsep-konsep budaya Karo.Kata kunci: katoneng-katoneng, cawir metua, sierjabaten, perkolong-kolong, sangkep nggeluh (rakut sitelu). 

Revitalisasi Ragam Hias Batik Keraton Cirebon dalam Desain Baru Kreatif Kudiya, Komarudin

;

Sabana, Setiawan

;

Sachari, Agus
PANGGUNG Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni

Publisher :

LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Bank check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i2.116

ABSTRACT Respecting traditions of the nation, which is preserving a batik tradition. Cirebon is the region that has a rich cultural treasures batik varied. Given its development, with a diverseness of Cirebon Kraton, Kraton Batik Cirebon products nowadays have more than characteristics, due east.1000.: (1) Kasepuhan Kraton on Singa Barong’s ornamentation; (two) Kanoman Kraton on Paksi Naga Liman’s ornament; (3) Kacirebonan Kraton on Bintulu’s ornament and (4) Kaprabonan on Dalung’southward ornament and motif without pictures of animals.This research needs to exploring, discovering, and formulating pattern elements (ornament, mate- rial, and color). This report used ethnographic method and experimental visuals method for ornaments on Kraton Batik Kasepuhan, Kanoman, Kaprabonan, and Kacirebonan based on historical cultural influences from Hinduism, Islam, China, and Europe.As long batik endemic past all Cirebon Kraton which is available during this condition tin can non be iden- tified and their physical condition is impairment. Thus in order to preserving the old batiks, it is necessary to reproduce a creative new batik designs with any dimensional aspects. Keywords: Revitalization, Kraton Batik Cirebon, Creative,    ABSTRAK Dalam kerangka menghargai tradisi suatu bangsa, yaitu melestarikan sebuah tradisi di an- taranya berkarya batik, yang merupakan warisan budaya Indonesia. Cirebon adalah wilayah yang memiliki kekayaan khasanah budaya batik yang variatif, baik yang masih tetap ada hing- ga kini, maupun yang sudah punah. Mengingat di dalam perkembangannya, Keraton Cirebon dengan aneka produk Batik Keraton Cirebon kini terbagi dalam tiga keraton dan satu peguron yang mempunyai ciri khas, antara lain: (1) Keraton Kasepuhan pada ragam hias Singa Barong; (2) Keraton Kanoman pada ragam hias Paksi Naga Liman; (3) Keraton Kacirebonan pada ra- gam hias Bintulu; (4) Peguron Kaprabonan pada ragam hias Dalung dan motif tanpa gambar hewan.Perlu dilakukan penelitian untuk menggali, menemukan, dan memformulasikan khusus- nya unsur teraga (ragam hias termasuk di dalamnya corak, bahan, dan warna). Penelitian ini menggunakan metode etnografi dan eksperimen visual terhadap ragam hias Batik Keraton Kasepuhan, Kanoman, Keprabonan, dan Kacirebonan yang berlandaskan pada kesejarahan mulai dari pengaruh budaya Hindu, Islam, Cina, dan Eropa.Adapun batik-batik lama yang dimiliki oleh seluruh Keraton Cirebon yang ada selama ini kondisinya tidak bisa dikenali secara umum dan kondisi fisiknya sudah rapuh menuju kondisi rusak. Dengan demikian guna menjaga kelestarian batik-batik lama tersebut maka diperlukan penelitian agar bisa dibuat reproduksinya menjadi desain batik baru kreatif. Kata kunci: Revitalisasi, Batik Keraton Cirebon, Kreatif,

Kombinasi Pendekatan Pembelajaran Musik Berkonsep Barat dan Kearifan Lokal Bagi Peserta PPL Latifah, Diah
PANGGUNG Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni

Publisher :

LP2M ISBI Bandung

Evidence Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: x.26742/panggung.v25i2.ix

Kajian ini menganalisis model  pendekatan pembelajaran dengan konsep Barat dan Kearifan Lokal pada pembelajaran musik yang dilaksanakan oleh peserta Plan Pengalaman Lapangan. Tujuan kajian adalah untuk mengetahui kekuatan pendekatan pembelajaran berkonsep Barat dan kearifan lokal untuk mempersiapkan calon guru musik berkompeten. Metode penelitian yang digunakan adalah Narratif Inquiry untuk menjelaskan berbagai kejadian yang diobservasi pada saat penelitian berlangsung. Hasil penelitian mengungkap, bahwa kombinasi pendekatan pembelajaran berbasis kearifan lokal  dan berkonsep Barat memiliki kekuatan untuk mengantarkan peserta Programme Pengalaman Lapangan sebagai calon guru musik professional yang memiliki kompetensi mengajar musik dengan baik, serta soft skill saat melaksanakan implementasi pembelajaran. Hasil belajar musik yang dicapai siswa memberikan informasi yang signifikan. Siswa memiliki kompetensi musik yang baik disertai dengan kompetensi soft skill hasil dari proses belajar musik.Kata kunci: Kombinasi Pendekatan Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal dan berkonsep Barat – Calon guru musik berkompeten

Kajian Bahasa Pragmatik pada Tari Endah Karya Southward. Maridi -, Maryono
PANGGUNG Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental

Publisher :

LP2M ISBI Bandung

Bear witness Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v23i4.148

ABSTRACT This inquiry aims to uncover the pregnant of Tari Endah from a pragmatic linguistic perspec- tive. The arroyo to the study uses a qualitative descriptive method. The theoretical foundation refers mainly to businesslike theories and performing art theories. The application of pragmatic theo- ries is used to enquiry the verbal components while performing arts theories are practical to study the nonverbal components.Based on an assay of the verbal and nonverbal components of Tari Endah, it was concluded that this trip the light fantastic toe is a romantic couples dance which is hoped to act as a good example for newlywed couples and the community in general. In addition, Tari Endah is a class of aesthetical amusement which is highly beneficial for the audience in fulfilling their spiritual and concrete needs. Keywords: pragmatic language, verbal components, and nonverbal components  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna Tari Endah1 dari perspektif linguis- tik pragmatik. Pendekatan penelitiannya menggunakan metode kualitatif deskriptif. Lan- dasan teoritis yang dirujuk lebih mengacu pada teori pragmatik dan teori seni pertunjukan. Bentuk aplikasinya, teori pragmatik digunakan untuk menggali komponen yang bersifat exact, sedangkan teori seni pertunjukan untuk mengkaji komponen yang bersifat nonver- bal.Berdasarkan analisis komponen verbal dan nonverbal pada Tari Endah didapat suatu simpulan bahwa Tari Endah merupakan salah satu bentuk tari pasangan percintaan yang diharapkan dapat dicontoh dan diteladani bagi sepasang pengantin dan masyarakat pe- nonton pada umumnya. Di samping itu Tari Endah juga merupakan bentuk hiburan estetik yang sangat bermanfaat untuk pemenuhan kebutuhan rohani dan jasmani dalam berbagai aktivitas kehidupan manusia. Kata kunci: bahasa pragmatik, komponen verbal, dan komponen nonverbal 

Representasi Identitas Melalui Komunikasi Visual Dalam Komunitas Virtual Palanta Urang Awak Minangkabau Franzia, Elda

;

Pialang, Yasraf Amir

;

Saidi, Acep Iwan
PANGGUNG Vol 25, No iv (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni

Publisher :

LP2M ISBI Bandung

Testify Abstract | Download Original | Original Source | Bank check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v25i4.45

ABSTRACTIn virtual customs, identity represented through various course. A person every bit customs fellow member is actualization through profile picture and doing communication action between members in virtual community. The communication held actively in verbal and visual communication form consists of message exchange and meaning through symbols that understand thoroughly based on culture and custom with certain feature differ to each ethnic groups. Palanta Urang Awak Minangkabau is one of the virtual communities in Facebook social network. As an active virtual community, the advice is ongoing intensely between members. Conversation and interac- tion are often beginning with image posting by member. This research is aim to explain the multifariousness of visual communication form in this certain virtual customs as part of virtual identity con- struction of Minangkabau ethnic group. The method is virtual observation and documentation, with semiotic method analysis in cultural studies approach. This research gave the understanding of image typology and cultural symbolism in Minangkabau culture, particularly in the context of virtual community in Facebook.Keywords: identity, advice, visual, Minangkabau, Facebook ABSTRAKDalam komunitas virtual, identitas direpresentasikan melalui berbagai bentuk. Individu yang menjadi anggota komunitas dihadirkan melalui foto profil dan melakukan aktivitas komunikasi antar individu dalam ruang komunitas virtual tersebut. Komunikasi berlangsung secara aktif meliputi tukar menukar pesan dan pemaknaan secara verbal dan visual melalui simbol-simbol penandaan yang dipahami bersama, dengan berbasis budaya dan adat dengan karakteristik tertentu yang berbeda antara etnis satu dengan yang lain. Palanta Urang Awak Minangkabau merupakan salah satu komunitas virtual di jejaring sosial Facebook. Sebagai komunitas virtual yang aktif, komunikasi berlangsung secara intens antar anggotanya. Percakapan dan interaksi sering kali dimulai dengan gambar yang dipaparkan oleh anggota komunitas. Kajian ini bertujuan untuk memaparkan ragam bentuk dan cara penyampaian komunikasi visual di dalam komunitas virtual ini sebagai bagian dari konstruksi identitas virtual etnis Minangkabau. Metode yang digunakan adalah observasi dan dokumentasi virtual, melalui analisis semiotik dengan pendekatan cultural studies. Kajian ini memberi pemahaman terhadap tipologi gambar dan simbol-simbol budaya yang berlaku dalam adat Minangkabau, khususnya dalam konteks komunitas vir- tual di Facebook.Kata kunci: identitas, komunikasi, visual, Minangkabau, Facebook

Religious Transformation Of Seni Dodod At Mekar Wangi Village South Banten Kasmahidayat, Yuliawan
PANGGUNG Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi

Publisher :

LP2M ISBI Bandung

Testify Abstruse | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v22i3.73

Selama proses transformasi budaya ditemukan adanya persinggungan antara seni tradisi dengan seni modern di luar wilayah seni Dodod. Dewasa ini terbentuk Gubahan Seni Dodod yang berfungsi sebagai sarana upacara perkawinan dan khitanan. Proses enkulturasi dilakukan secara formal di sekolah dengan menerapkan Gubahan Seni Dodod sebagai materi pembelajaran seni budaya. Pe­ nerapan Seni Dodod dalam bentuk asli serta gubahannya merupakan pewarisan non formal yang dilakukan di sanggar Seni Dodod, kalangan remaja, dan warga desa. Pemaknaan religiusitas Seni Dodod   terekspresikan dalam kehidupan masyarakat desa Mekar Wangi, didasarkan pada pemak­ naan yang dilakukan oleh para pimpinan pondok pesantren. Pemaknaan didasarkan pada penjelasan, yang menerangkan, menampakkan, menyibak, serta merinci tujuh ayat Al­Qur’an, yang melahirkan pemaknaan pada keutuhan ragam gerak, kostum yang digunakan, syair pantun Lutung Kasarung, dan mantra atau do’a yang digunakan dalam Seni Dodod, serta Seni Dodod sebagai kebudayaan dan kesenian Islam. Tampaknya kedudukan Seni Dodod dewasa ini mengalami pergeseran yang semula sebagai sarana ritual pertanian, kini menjadi bagian penting dalam upacara perkawinan dan khita­ nan, namun tidak sampai menjadi seni yang sekular. Kata Kunci: Transformasi religiusitas, seni dodod  

THE SUSTAINABLE ARCHITECTURAL VALUES OF ECLECTIC STYLE SHOPHOUSES CASE STUDY: Sun YAT SEN MUSEUM PENANG, MALAYSIA Zwain, Akram

;

Bahauddin, Azizi
PANGGUNG Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts

Publisher :

LP2M ISBI Bandung

Testify Abstract | Download Original | Original Source | Cheque in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i2.253

AbstractThe Sun Yat Sen shophouse in Penang is a minor private Museum, which was converted from a shophouse or townhouse situated in theArmenian Street heritage area of George Town. The building is an example of embraces of the architectural heritage of George Town which is an extraordinarily beautiful example of Straits Settlements merchants shophouse.Historically, it is associated with the global historical personality of Dr. Sun Yat Sen and hisrevolutionary. This city was added to the UNESCOs world heritage list in 2008 to admit its rich cultural heritage that constitutes of unique architectural and cultural townscape along the Straits of Melaka. This paper investigates the architectural plan of a shophouse and the valuesof cultural heritage buildingswhich somewhen was converted into a Museum in George Town, Penang. Classified every bit an eclectic style shophouse, it is rich in pattern and art components featured in its architecture that are however sustaining until today. This building has an interesting mixture of architectural and cultural inspirations adapted from the Chinese origin, with the local Malay ethnicity and the European influencesthat colonised the region. The introduction of new non related architectural components into the southern Chinese (eclectic style) style in shophouses in George Town has resulted in the disappearance of this unique fashion of architecture. This investigation employs a qualitative research approach by documenting show and understanding the architectural as well as cultural influences of the southern Chineseeclectic manner by studying the Sun Yat Sen Museum as a example report. The findings of the research point towards an agreement of the architectural and cultural influences that govern the design of the shophouse and its architectural character.Key words: sustainable architectural values, George Town, eclectic mode, shophouses

Model Penilaian Kinestetik dalam Menilai Tari I-pop (Modern Dance) Triana, Dinny Dev
PANGGUNG Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni

Publisher :

LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i1.106

ABSTRACT The Research aims to proceeds a kinesthetic cess models used in assessing the i-popular trip the light fantastic toe (modern dance), because judging a trip the light fantastic operation is often not objective and not based on the theory of dance. Element of subjectivity and sense of fine art of assessors tend to provide an assessment that is not in accord with the provisions that must be measured or assessed.The method used by the mixed method, combining quantitative and qualitative methods, in which the grains analyzed through validity and reliability, resulting in a valid and reliable instrument with two calibration is the calibration phase 1 and phase 2. So that the instrument has good quality in the construct, the kualitatuf testing done through Focus Grouping Word (FGD) of experts consisting of choreographers, professional person dancers, and academics in the field of dance and art.Based on these results , the instruments are to be used in competitions at each race event. These results are expected to solve the problem in any event the modernistic dance contest trip the light fantastic toe (i-pop dance), then that the assessors and the public is more than intelligent and has a good attitude of appreciation in assessing dance. Keywords: i-pop dance (mod trip the light fantastic), assessment, kinesthetic, dance    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan model penilaian kinestetik yang diguna- kan untuk menilai Tari I-popular (modern dance). Penilaian suatu pertunjukan tari seringkali ti- dak objektif dan tidak didasari pada teori tentang tari, karena unsur subjektivitas dan sense of art dari penilai cenderung memberikan penilaian yang tidak sesuai dengan ketentuan yang harus diukur atau dinilai.Metode penelitian yang digunakan dengan mix method yaitu menggabungkan metode kuantitatif dan kualitatif, di mana butir dianalisis melalui uji validitas dan reliabilitas, se- hingga menghasilkan instrumen yang valid dan reliabel dengan dua kali kalibrasi yaitu kalibrasi tahap ane dan tahap 2. Instrumen memiliki kualitas yang baik secara konstruk, maka pengujian kualitatif dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) dari para pakar yang terdiri atas koreografer, penari professional, dan akademisi di bidang seni tari dan seni rupa.Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka instrumen sudah dapat digunakan dalam kegiatan lomba di setiap fifty-fifty perlombaan. Hasil ini diharapkan dapat memecahkan ma- salah dalam setiap fifty-fifty lomba tari modern trip the light fantastic (i-pop dance), sehingga penilai dan ma- syarakat lebih cerdas dan memiliki sikap apresiasi yang baik dalam menilai tari. Kata kunci: i-pop dance (mod dance), penilaian, kinestetik, tari

Demonisasi Islam dalam Pic ‘Tanda Tanya (?)’ Ritonga, Rajab
PANGGUNG Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni

Publisher :

LP2M ISBI Bandung

Show Abstruse | Download Original | Original Source | Bank check in Google Scholar | DOI: ten.26742/panggung.v23i3.139

ABSTRACT ‘Tanda Tanya (?)’ picture has go an Indonesian cinematic piece of work with some controversies complement with it. The controversies lie on how the movie constructed their letters related to the description of Islamic prototype. The Islamic image which is depicted in this picture contains several sym- bols which created a demonization on the construction of Islam and Moslem. The narrative theory that has been employed focuses on greimas actantial analysis models which emphasizes on how the narrative creates a story and how the story becomes a narrative discourse. The semiotic analysis used on this research is in term of constructivist perspective which aims at constructing the phenomena as a whole reply. The result of the research is that demonization of Islam has been constructed through the narrative sequences of ‘Tanda Tanya’. The movie depicted Islam in an prototype of traditional, un- civilized, terrorism, destructive, and aggressive community. This created a pregnant of Islam as a negative and demonic community, religion, and value. Keywords: demonization, Islam, narrative  ABSTRAK Film ‘Tanda Tanya (?)’ merupakan sebuah karya cinema Indonesia yang mengundang banyak kontroversi. Kontroversi terletak pada bagaimana picture ini mengkonstruksikan pesan-pesannya terkait penggambaran citra Islam. Citra Islam yang digambarkan dalam film ini mengandung simbol-simbol yang menciptakan sebuah demonisasi pada kon- struksi Islam dan muslim. Dalam penelitian ini teori naratif digunakan sebagai alat united nations- tuk memberikan gambaran tentang fenomena demonisasi. Teori naratif yang digunakan berfokus pada model analisis aktansial greimas yang menitikberatkan bagaimana naratif menciptakan sebuah cerita dan bagaimana cerita menjadi sebuah wacana naratif. Analisis semiotik yang digunakan dalam penelitian ini berdasarkan penggunaan dalam paradigma konstruktivis yang bertujuan mengkonstruksi fenomena sebagai sebuah jawaban. Temuan penelitian ini ialah demonisasi umat Islam dikonstruksikan melalui sekuen/babakan nara- tif dalam film ‘Tanda Tanya’. Film ini menggambarkan Islam dalam sebuah citra masyara- kat yang tradisional, tidak beradab, teroris, merusak, dan agresif. Ini menciptakan suatu pemaknaan Islam sebagai masyarakat, agama, dan nilai yang demonik dan negatif. Kata kunci: demonisasi, Islam, naratif

Tari Wayang Karakter Satria Ladak Sumiati, Lilis
PANGGUNG Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni

Publisher :

LP2M ISBI Bandung

Prove Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v22i1.35

Wayang dance is a trip the light fantastic toe expressing events in the stories of wayang. The events here among oth- ers are dances revealing the background of the story, theme, the proper name of the dance, characters, and philosophical elements. Of those various elements, the scope in this study is limited into matters of satria ladak character.Wayang dance satria ladak character living in several areas contains some pregnant differences in several aspects. The term differing the specialty of wayang dance is chosen sejak. The telescopic of se- jak is more for one’s style in dancing dance genre from the same ethnic. Therefore, the term sejak is firstly come out when seeing one’s performance in dancing, either referred to her/his choreography or to her/his specialty in performing the dance. Then, sejak owned past the individual is spread among his/her surrounding, and so that it can exist an icon in corresponding areas.The quantity of Wayang dance satria ladak is varied in each areas, such as sejak Sumedang is Dipati Karna trip the light fantastic. While Sejak Garut is Bambang Somantri dance, and sejak Bandung is Arayana dance. These materials are called as samples for comparative and interpretative written report.Keywords: Wayang Trip the light fantastic, Satria Ladak, Sejak, comparative, interpretative.  

Folio 8 of 61 | Total Record : 603


Filter By Issues

All Result Vol 32, No ane (2022): Varian Model Proses Kreatif dalam Cipta Karya Seni Vol 31, No four (2021): Implementasi Revitalisasi Identitas Seni Tradisi Vol 31, No three (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas Vol 31, No 2 (2021): Estetika Dalam Keberagaman Fungsi, Makna, dan Nilai Seni Vol 31, No ane (2021): Eksistensi Seni Budaya di Masa Pandemi Vol 30, No four (2020): Kearifan Lokal dalam Metode, Model dan Inovasi Seni Vol xxx, No 3 (2020): Pewarisan Seni Budaya: Konsepsi dan Ekspresi Vol 30, No 2 (2020): Identitas Sosial Budaya dan Ekonomi Kreatif Vol thirty, No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif Vol 29, No 4 (2019): Keragaman Seni dan Inovasi Estetik Vol 29, No three (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29, No ii (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini Vol 28, No iv (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28, No two (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in Co Vol 27, No three (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No ii (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No ane (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 27, No iv (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Teaching in C Vol 27, No iii (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Fine art Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No one (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Estet Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No two (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 26, No iv (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Este Vol 26, No iii (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No iii (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No ii (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No one (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 24, No four (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No iii (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No ii (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No ane (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No three (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelajar Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No one (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelaja Vol 22, No four (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No iii (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol xviii, No one (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 15, No 36 (2005): JURNAL PANGGUNG: JURNAL SENI STSI BANDUNG Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradisional Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradision More Issue

johnsstaread.blogspot.com

Source: https://garuda.kemdikbud.go.id/journal/view/10363?page=8

Postar um comentário for "ââ⢠What Is the Evidence of a Performance Art Event?"